UAS_FADHLURRAHMAN RAMDHANI_210104190042_DPM_MEMBUAT ARTIKEL HUMAN INTEREST


Nama : Fadhlurrahman Ramdhani
Kelas  : B
Semester : 1
Mata kuliah : Dasar Penulisan Multimedia
Tugas           : MEMBUAT ARTIKEL HUMAN INTEREST







Insan Perantara Lukisan Jalanan


        Ditengah keramaian kota bandung sebagai pusat pemerintahan jawa barat, ada satu tempat yang menjadi salah satu ikon kota bandung. Jalan braga. Disebuah jalan yang tidak terlalu panjang ini kedai dan bar berjejer oleh masyarakat yang lalu lalang. Namun, ada salah satu hal yang menjadi perhatian, lukisan jalanan.
            Terpajang di depan kios-kios kosong dengan satu orang penjual yang menjajakan lukisan dengan harga berkisar 300 ribu sampai 500 ribu rupiah ini. Namun selain lukisan yang menarik, cerita kehidupan para pedagangnya pun menarik. Asep saefudin salah satunya.
            Asep saefudin atau yang biasa di sapa “kang a’e “ sudah mulai berdagang lukisan dari tahun 1996 di jalan braga. Ia mendapat rekomendasi dari temannya untuk bekerja sebagai pedagang lukisan. Karena kebetulan teman asep ini mengenal salah satu seniman lukisan di bandung yang butuh seseorang untuk menjual lukisannya.
            Asep mulai mengawali kegaiatannya untuk berdagang lukisan di braga dari jam 8 pagi. Ia tidak mematok hingga jam berapa ia harus berjualan. Kadang jika ia benar benar butuh sekali pemasukan ia bisa berdagang sampai jam 12 malam. Keuntungan memang tidak selalu menghampiri, terkadang dalam waktu seminggu hanya 1 lukisan yang terjual. Namun asep tidak berkecil hati dengan hal tersebut
“ya namanya juga usaha jadi ya saya jalanin aja kan rezeki mah udah ada yang ngatur” ucap asep sambil tertawa.
            Asep menceritakan bedanya ia dan penjual lain saat menjajakan lukisan jalanan ini, beberapa penjual memiliki sikap agak memaksa saat berjualan, tidak dengan asep yang menawarkan barang dengan ramah kepada konsumen.
“kebanyakan penjual tuh maksa, kalo saya mah  engga silahkan. Mau liat liat doang juga boleh. Justru itu yang beli juga jadi ngerasa atoh lah ceuk urang mah gitu” kata asep bercerita.
            Asep yang merupakan warga yang telah lama tinggal di belakang jalan braga awalnya adalah bandar sepatu. Ia mendapat suplai dari cibaduyut untuk dijual di sekitar jalan braga. Namun, karena keuntungan yang di dapat tidak dapat mencukupi kebutuhan dua orang anak dan seorang istri ia akhirnya beralih menjadi pedagang lukisan. Asep mengakui memang lukisan tidak sering terjual, namun saat satu lukisan saja terjual menurutnya itu sudah dapat mencukupi kebutuhan untuk satu hari.
            Saat mengawali berjualan lukisan, asep memang butuh beberapa bulan untuk beradaptasi dengan cara penjualan lukisan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat asep menawarkan lukisan-lukisan ini kepada orang yang lewat. Asep tidak mengindahka unsur paksaan dalam cara menjualnya. Dan belajar dari pengalaman akhirnya asep dapat cukup baik dalam berjualan lukisan dari hari ke hari.
            Sebelumnya asep mencoba peruntugan dengan menjual motornya untuk menjual lukisan ini secara mandiri. Keberanian asep membuahkan hasil saat itu, namun lambat laun karena harga kebutuhan pokok makin menanjak, ia memutuskan untuk bekerja kepada bandar lukisan di bandung dan membagi hasil penjualan lukisan yang dijualnya.
            Asep saefudin menikmati apa yang dilakukannya saat ini. Ia bersyukur bisa hidup dalam kesederhanaan dan dengan lukisan inilah ia menggantungkan hidupnya. Dalam goresan cat minyak yang seakan menyemangatinya dari belakang untuk terus berusaha dan tak putus asa.
           

Komentar

Postingan Populer