Millennial Generation Coffee Shop Lifestyle

 

Millennial Generation Cooffee Shop Lifestyle




 

Kopi telah ada sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Kopi juga menjadi minuman favorit kebanyakan orang saat ini, tidak memandang usia, tua atau muda jarang menolak jika diajak minum kopi sambil melakukan obrolan ringan tentang kabar dan basa-basi ala bapak-bapak hingga obrolan larut malam anak mudah yang tiba-tiba melek permasalahan sosial politik  di negeri ini.

Seiring perkembangan zaman, warung kopi juga berkembang menjadi lebih modern dan memiliki nama keren yaitu “coffee shop” yang sebenarnya memiliki makna yang sama dengan kata “warung kopi” namun karena menggunakan Bahasa inggris sehingga menjadi tampak lebih berkelas dan memang pada kenyataannya coffee shop merupakan tempat yang nyaman dan keren sehingga lebih digandrungi oleh generasi yang lebih muda.

Pilihan jenis kopi juga bergeser di kalangan milenial, karena kopi-kopi di coffeeshop moderen menggunakan biji kopi asli yang digiling terlebih dahulu, membuat selera kopi anak muda pun berubah, berbeda dengan warung kopi burjo yang setia dengan produk merek kendaraan laut legendaris yang bikin melek hingga pagi

Coffeeshop seringkali menjadi tempat berkumpul dengan teman lama yang hanya bisa bertemu setahun sekali itupun saat belum ada pandemi. Saya yang termasuk generasi milenial membenarkan hal itu. Selain untuk sekedar melepas rindu dengan teman lama, coffeeshop juga dijadikan destinasi murah meriah untuk kencan pertama, tentu saja dengan memilih-milih minuman dan camilan yang harganya terjangkau agar masih bisa makan diakhir bulan sehingga coffeeshop menjadi tempat nongkrong dengan tempat nyaman namun dengan harga yang aman.

Bahkan menurut penelitian brand manager W’dank Emilia Meliana, selama 5 tahun terakhir kata “kopi” naik tiga kali lipat dari sebelumnya pada mesin pencari google. Sementara di Instagram terdapat lebih dari 400.000 unggahan bertagar #kopiindonesia dan #ngopi, yang membuktikan peningkatan konsumsi kopi di coffeeshop yang didominasi kaum milenial dengan berbagai keperluannya di tempat itu. Berbagai coffeeshop juga mulai berdiri di sudut-sudut kota, dengan beragam harga dan pemandangan yang ditawarkan. Ngomong-ngomong soal pemandangan, beberapa anak muda saat ini lebih mencari coffeeshop dengan pemandangan atau desain bangunan yang instagramable dibanding dengan rasa kopi yang nikmat. Tentu saja ini penting demi konten yang menarik dan mengundang banyak like di sosial media. Coffeeshop pun berlomba dalam memperindah dan mempernyaman tempat, karena memang itu yang dicari anak muda.

Walau bagaimanapun, gaya hidup coffee shop ini sudah menjadi tren dan terus berlanjut. Kebutuhan akan tempat bersosialisasi yang unik dan keren untuk anak muda menjadi hal yang wajib. Bahkan saya pun memasukan biaya nongkrong di coffee shop ini kedalam daftar pengeluaran, melihat frekuensi nongkrong atau bertemu seseorang membutuhkan tempat kopi yang nyaman sehingga pengeluaran yang ada juga tidak sedikit untuk saya yang seorang mahasiswa.

Gaya hidup coffeeshop yang saya bicarakan disini tidak hanya menempatkan anak muda sebagai konsumen dari coffeeshop tersebut, tapi juga menjadi pemiliknya. Seperti kita ketahui pada pertangahan 2018 sampai saat ini ada banyak coffeeshop modern yang bisa dijumpai disetiap jalan. Karena anak muda melihat model bisnis ini rasanya menjanjikan dan gampang diolah. Berdirilah berpuluh-puluh tempat kopi dengan menawarkan kopi dan tempat nongkrong asik sekaligus tempat melihat senja sebelum adzan berkumandang. Ya itu benar, senja dan kopi jadi memiliki hubungan erat yang tercipta karena presepsi anak muda kaum indi yang menjadikan nongkrong menyeruput kopi sambil menatap langit oranye  sebuah rutinitas. Ya walaupun saya yang bukan penyuka musik indie mengakui kalau minum kopi di sore hari itu memang nikmat sekali, kadang juga memancing inspirasi. Oh ya, saya juga ingat bahwa pada era coffeeshop life style ini, kopi berjenis manual brew menjadi marak dikalangan anak muda. Memesan kopi susu di coffeeshop seperti sekarang kesannya sama saja dengan minum kopi dirumah, itulah yang menbuat beberapa orang menjadi penikmat kopi tubruk dan kopi-kopi tradisional ala dataran tinggi puntang yang rasanya nendang.

Hal yang menjadi perhatian saya adalah, sebagai anak muda yang juga genrasi milenial. Kebutuhan akan tempat nyaman untuk berkumpul bersama orang terdekat dan tercinta dengan harga terjangkau menjadi sebuah kebutuhan. Gaya hidup ini didorong oleh kebutuhan itu, tidak semua generasi milenial ini mementingkan rasa dari kopi yang dibuat oleh baristanya. Selama rasanya masih sama dengan kopi pada umumnya, berarti masih oke, yang terpenting tempatnya bersih dan mendukung untuk kegiatan berkumpul. Bahkan pengeluaran untuk datang ketempat seperti ini jadi cukup memusingkan, karena nyamannya coffeeshop jaman sekarang, membuat saya sering datang untuk mengerjakan hal lain selain nongkrong. Mungkin itu sebabnya generasi kita disebut memiliki gaya coffeeshop, karena kebanyakan hal yang berbau interaksi dengan orang lain dan waktu untuk produktif sendiri dilakukan di coffeeshop. Memang tidak semua orang seperti itu, namun tidak bisa dipungkiri kehadiran tempat ini menjadi penolong disaat butuh ruang baru dalam bekerja.

Pada intinya, perkembangan zaman mengubah gaya hidup kita sebagai generasi milenial, dimana berkumpul bersama kerabat diakhir pekan menjadi kebutuhan. Coffeeshop ini sebenarnya jadi alternatif tempat minum dan makan murah dibanding harus ke mall yang harganya berlipat ganda. Semakin hari gaya hidup ini menjadi normal di kalangan anak muda, tidak hanya di kota besar, di kota manapun selama ada coffeeshop, disanalah anak muda berkumpul.

Komentar

Postingan Populer